[Jakarta, B’Inklusi] – Komunitas musik dan advokasi sosial Mimbar Bebas merilis single terbarunya yang berjudul “Kamisan”, sebuah balada akustik yang didedikasikan untuk memperingati perjuangan panjang keluarga korban pelanggaran HAM di Indonesia. Lagu ini menggambarkan semangat dari Aksi Kamisan, sebuah gerakan damai yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di depan Istana Negara Jakarta setiap hari Kamis.
Ryan Winardi, perwakilan Mimbar Bebas, mengatakan bahwa lagu ini diciptakan sebagai bentuk penghormatan dan solidaritas terhadap mereka yang selama ini menuntut keadilan tanpa lelah. “Kamisan bukan sekadar lagu, ini adalah bentuk meditasi musikal atas luka kolektif dan janji untuk tidak melupakan. Kami ingin mengangkat emosi dan makna di balik payung hitam dan jas yang berdiri diam di depan istana,” ujar Ryan di Jakarta kepada BincangInklusi, Senin (22/12).

Suara untuk Keadilan
Dengan vokal yang diisi oleh Jessica Angel, “Kamisan” memadukan alunan gitar akustik dan melodi melankolis yang membangun suasana reflektif. Lirik seperti “Di depan istana, waktu terhenti. Jas dan payung hitam berdiri tanpa kata,” menjadi gambaran kuat dari Aksi Kamisan yang ikonik.
Lagu ini tidak hanya menyuarakan kesedihan, tapi juga semangat perlawanan terhadap pelupaan sejarah. Beberapa lirik yang menonjol seperti “Kamis hitam, penuh dengan duka hari kalah. Menolak lupa, masa suram, menggoreskan luka,” menunjukkan kedalaman naratif yang dibangun dalam komposisi musik ini.
Ryan menambahkan bahwa “Kamisan” sengaja dirilis di tengah kondisi sosial yang masih bergulat dengan isu ketidakadilan dan pelanggaran HAM. “Kami percaya musik adalah perisai melawan lupa. Lagu ini adalah panggilan untuk merenung, merasakan, dan ikut menyuarakan keadilan,” katanya.
“Kamisan” kini sudah tersedia di berbagai platform streaming musik, dan Mimbar Bebas berharap lagu ini dapat menjangkau lebih banyak pendengar yang peduli pada hak asasi manusia dan sejarah bangsa.
Penulis: Ignatius Herjanjam
