[B’Inklusi] – Pagi itu, Sabtu, 13 Desember 2025, suasana di Gereja Katedral Bogor terasa begitu sakral dan penuh harapan. Sinar lampu yang hangat menerangi altar dan bangku panjang, menciptakan nuansa damai yang menyentuh.
Para orangtua, pendamping, dan anak‑anak yang hadir sejak pukul 7 pagi duduk dengan penuh pengharapan, menyambut momen perayaan iman yang begitu berarti dalam hidup mereka.
Perayaan yang dipimpin oleh Uskup Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM, didampingi Pastor Alfonsus Sombolinggi, mengundang umat untuk menerima sakramen inisiasi: Baptis, Komuni Pertama, dan Penguatan (Krisma). Sebanyak 74 umat menerima sakramen pada hari itu. Dari jumlah tersebut, 9 di antaranya adalah umat berkebutuhan khusus — termasuk anak berkebutuhan khusus dan umat dewasa penyandang disabilitas — yang telah melalui perjalanan iman yang penuh perjuangan.
Bagi mereka, momen ini bukanlah sesuatu yang mudah diraih. Selama berbulan‑bulan, mereka menghadapi tantangan fisik dan emosional, keterbatasan kemampuan, serta kekhawatiran apakah mereka akan benar‑benar diterima dalam liturgi sakramen.
Dukungan komunitas Bersama Sahabat Disabilitas (BSD), orangtua, dan para pendamping menjadi kekuatan utama yang ikut menyertai setiap langkah mereka. Hari itu merupakan puncak perjalanan panjang yang menunjukkan bahwa doa‑doa mereka yang sederhana namun tulus didengar oleh Tuhan.
Perlu ditegaskan bahwa tidak semua peserta disabilitas menerima tiga sakramen sekaligus. Ada yang menerima Komuni saja, ada yang menerima Baptis dan Komuni, ada yang menerima Krisma saja, dan ada yang menerima kombinasi Komuni dan Krisma. Ini memperlihatkan bahwa Gereja memberi ruang bagi perbedaan pengalaman iman setiap individu, bukan memaksakan satu bentuk tunggal.
Ketika giliran umat berkebutuhan khusus menerima sakramen Krisma tiba, suasana menjadi semakin haru. Biasanya, peserta Krisma menaiki undakan altar dan berlutut di hadapan Uskup. Namun karena yang maju adalah peserta dengan kebutuhan khusus, Uskup Paskalis turun dari kursinya, menuruni undakan altar, dan menghampiri mereka satu per satu di lantai bawah.
Tindakan ini bukan sekadar simbol, tetapi tindakan kasih nyata: Gereja hadir bukan hanya memanggil, tetapi mendekat kepada mereka yang selama ini mungkin merasa terpinggirkan.
Dengan senyum hangat, Uskup menyebut nama baptis tiap peserta, dibacakan dari kertas oleh Pastor Alfonsus, lalu mengoleskan minyak Krisma di dahi mereka sambil mengucapkan, “Terimalah tanda kurnia Roh Kudus.”
Ada yang menjawab dengan suara yang cukup lancar, namun banyak yang hanya menjawab dengan suara terbata‑bata atau gerakan isyarat sederhana — terutama bagi mereka yang tuli. Uskup memperhatikan setiap jawaban itu dengan penuh kasih dan kesabaran, menghormati setiap usaha respon yang dilakukan.

Momen Haru
Salah satu momen yang paling menyentuh terjadi ketika Mae, seorang gadis berusia 12 tahun, menerima Komuni Pertama. Setelah menelan hosti suci dan anggur , ia tersenyum lebar dan berkata polos “Aku bisa!”
Ucapan itu mengundang senyum haru dari orangtua dan pendamping di sekelilingnya. Itu bukan sekadar kata — tetapi sukacita iman yang tulus dan murni.
Ada pula satu peserta yang dengan tulus mencoba berlutut di hadapan Uskup, sebuah ekspresi hormat yang tulus meski tidak diminta. Pendampingnya membantu dengan lembut, sementara Uskup menyambutnya dengan senyum penuh kasih.
Setelah liturgi selesai, para peserta berkebutuhan khusus, orangtua dan pendamping berkumpul di depan altar untuk foto bersama dengan Bapa Uskup, sambil membentangkan spanduk bertuliskan: “Inklusi dalam Sakramen, Satu dalam Kristus.”
Makna dari tulisan ini sangat dalam: bahwa semua umat, meskipun berbeda kondisi, adalah satu dalam Kristus. Gereja bukan ruang khusus bagi yang seragam, tetapi rumah bersama bagi semua umat, tanpa pengecualian — dimana perbedaan bukan halangan, tetapi bagian dari kekayaan tubuh Kristus.
Acara kemudian berlanjut ke ramah tamah di Gedung Maria, diikuti oleh sekitar 40 orang, orangtua peserta, pendamping, dan relawan BSD. Di sana ada pemberian kenang‑kenangan kepada para penerima sakramen, makan siang bersama, serta persembahan lagu “Terima Kasih Tuhan” oleh anak‑anak berkebutuhan khusus bersama tim pendamping. Lagu ini menjadi ungkapan syukur bersama atas penyertaan Tuhan yang nyata dalam kehidupan mereka.
Dukungan Gereja
Dalam sambutannya, Monica Apriyani, pengurus Komisi Kateketik Keuskupan Bogor, menyampaikan dukungan penuh terhadap pelayanan inklusif bagi umat berkebutuhan khusus.
“Komisi Kateketik Keuskupan Bogor mendukung langkah inklusivitas ini dengan sepenuh hati. Gereja harus menjadi rumah bersama bagi semua orang — termasuk umat berkebutuhan khusus. Mereka juga berhak menerima Sakramen dan hidup menggereja layaknya umat lainnya. Tentu pendekatannya bisa berbeda sesuai kebutuhan mereka, tetapi haknya sama, tanpa terkecuali,” papar Monica.
Monica juga mengingatkan bahwa dukungan ini bukan hanya kebijakan lokal semata. Ini merupakan bagian dari komitmen yang ditegaskan dalam Temu Karya Pastoral Regio Jawa dua tahun lalu di Bogor. Pertemuan besar itu diikuti oleh tujuh keuskupan yakni , Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Agung Jakarta, Surabaya, Malang, Purwokerto, Bandung, dan Bogor. Dalam pertemuan tersebut, Uskup Paskalis hadir dan memimpin misa, serta menegaskan bahwa Gereja harus terbuka dan menjadi rumah bagi semua umat, termasuk mereka yang selama ini sering terpinggirkan.
Kesaksian paling haru datang dari Natalia, seorang ibu dari peserta berkebutuhan khusus bernama Andre. Dengan mata berkaca‑kaca, ia berkata, “Saya sangat bersyukur. Anak saya mengalami banyak tantangan dalam pergaulan dan kehidupan sehari‑hari. Namun hari ini, dia dibaptis dan menerima Komuni seperti umat lainnya. Gereja benar‑benar menerima dia apa adanya. Ini sangat berarti bagi kami.”
Hari itu bukan hanya tentang sakramen yang diberikan. Hari itu adalah perayaan kasih tanpa syarat — pengalaman iman yang memperlihatkan bahwa kasih Kristus hadir untuk semua umat, tanpa batasan apapun.
Ketika Uskup turun dari kursinya dan menyapa mereka satu per satu, Gereja berkata dengan jelas, “Engkau adalah bagian dari Kristus; engkau bukan hanya diundang — engkau diikutsertakan sepenuhnya.”
Penulis: Ignatius Herjanjam
